Langsung ke konten utama

Review Buku: Islam Yang Saya Anut

 

Kandungan Ajaran Islam: Akidah,  Syariah, dan Akhlak

 

Untuk review part 1  silahkan cek di link ini : https://yukbahasbareng.blogspot.com/2020/12/kenapa-manusia-diberi-taklif.html

Selanjutnya, di buku ini Abi Quraish Shihab juga memaparkan kandungan pokok agama Islam yang terdiri dari akidah, syariah, dan akhlak.

Penjelasan akidah berkaitan dengan rukun iman. Penulis selalu mengungkapkan keterangan iman dengan perumpaan sehingga mudah dipahami. Contohnya:

Jangan juga bertanya mengapa kita tidak melihat Tuhan dengan mata kepala? Jawaban pertanyaan ini dapat temukan dalam jawaban berikut: ‘Mengapa kelelawar tidak dapat melihat di siang hari? Anda tentu akan menjawab: ‘Cahaya siang terlalu terang bagi matanya sehingga ia silau.’. Nah, demikian juga dengan cahaya Ilahi.

kita dituntut untuk mengimani sesuatu yang gaib padahal itu merupakan sesuatu yang sulit dijangkau oleh akal. Namun, dengan akal pula kita bisa berpikir dan mengetahui bahwa dalam kehidupan yang kita alami ini pastilah adanya keberpasanagan. Ada malam, ada siang; ada jantan, ada betina; ada proton, ada electron, dsb. Jika begitu, kalau ada alam materi yang bisa dijangkau oleh akal, maka juga ada alam non-materi yang tidak dapat dijangkau manusia.

Unsur yang kedua adalah syariah. Ini berkaitan dengan rukun Islam yang kita ketahui bersama ada lima poin: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Ketika bersyahadat seorang muslim harus mengucapkannya dengan lisan sebagai bentuk pemberitahuan kepada orang lain bahwa dia beragama Islam. Tujuannya apa? Yaitu agar seorang muslim mendapatkan hak-haknya sebagai muslim. Contohnya ketika ia mati, maka muslim di sekitarmya akan memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburnya. Akan berbeda jika ia hanya mengimani Allah dan Rasul-Nya di dalam hati saja tanpa diucapkan, bisa saja muslim lainnya tidak melakukan hal-hal yang disebutkan tadi. Untuk penjelasan rukun Islam yang lainnya sepertinya tidak cukup dijelaskan di sini.

Unsur yang terakhir adalah akhlak. Akhlak yang diajarkan Islam adalah bersifat asy-Syumul atau menyeluruh, dari hal-hal besar sampai hal-hal yang dianggap sepele seperti bersin. Islam mengajarkan akhlak atau sopan santun ini tidak hanya kepada sesama manusia saja, tetapi juga terhadap binatang, benda mati, lebih-lebih terhadap Allah dan Rasul-Nya. Contoh sopan santun manusia terhadap binatang adalah ketika kita ingin menyembelihnya. Rasul berpesan pada umatnya untuk mengasah pisau sehingga tajam agar ketika binatang disembelih tidak merasakan kesakitan dalam waktu yang lama.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan "Malu" Al-Haya' dan Al-Khojal

               Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda ' 'إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ ,  yang artinya “Setiap agama mempunyai akhlak dan akhlak Islam adalah malu”. Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud malu di sini ? Benarkah malu dalam berbuat apa saja seperti yang diklaim sebagian orang ? Berikut ulasannya. Malu adalah akhlak terpuji yang membuat seseorang takut untuk melakukan perbuatan tercela yang menimbulkan aib bagi dirinya. Sifat malu sangat identik dengan perempuan. Pandangan masyarakat mengatakan bahwa perempuan harus bermahkotakan malu. Memang benar adanya seperti ini, tetapi sebagian masyarakat masih menyamakan malu dalam berbuat kebaikan dan keburukan. Sehingga sebagian masih merasakan malu dalam berbuat kebaikan seperti halnya malu dalam menunut ilmu. Perasaan malu tidak mengahalangi perempuan untuk menimba ilmu   ataupun mengajarkannya terhadap muslim lainnya. Seperti halnya yang ...

Kriteria Kritik Sastra pada Masa Jahiliyah

  Penilaian terhadap sastra berbeda-beda setiap masanya. Setiap masa memiliki standar dan kriteria masing-masing yang relevan dengan perkembangan sastra kala itu. Setelah mengenal contoh-contoh naqd pada masa jahiliyah, kita akan beranjak mengenai pembahasan kriteria kritik sastra pada masa jahiliyah. Adapun ketentuan kritik sastra jahiliyah menurut Dr. Mustofa Abdurahman Ibrahim dalam kitab في النقد الأدبي القديم عند العرب halaman 51-54 adalah sebagai berikut:         1.   Sense / insting/ perasaan alami / ( الذوق الفطري )   Pada masa jahiliyah belum ada standar khusus dalam kritik sastra. Krirtik sastra cenderung muncul dari insting pengkritik secara alami dan murni tanpa berpacu terhadap kaidah-kaidah karena memang belum ada ketentuan kriteria secara pasti. Contohnya adalah kritik yang dilakukan Torfah terhadap syair Musayyab. Beliau mengkritik Musayyab atas kesalahannya dalam penggunaan ciri unta betina pada unta jantan. Klik di s...

Kritikus Sastra dan Syarat-syaratnya

Telah diketahui bersama bahwasanya orang-orang Arab dahulu sangat suka melantunkan syair. Berbarengan dengan kebiasaan bersyair inilah muncul pula kegiatan kritik terhadap sastra atau biasa disebut dengan naqd. Naqd adalah kegiatan memberi penilaian terhadap syair dengan menyebutkan keunggulan dan kekurangan syair tersebut. Orang yang melakukan penilaian ini disebut naqid (kritikus) . Sebenarnya, setiap penyair adalah kritikus. Minimalnya, ia mengkritik syairnya sendiri kemudian melakukan perbaikan. Contohnya saja adalah penyair Zuhair bin Abi Sulma. Dalam mengkritik syairnya sendiri, beliau bisa menghabiskan waktu selama satu tahun penuh. Untuk memperjelas apa aja sih syarat-syarat menjadi seorang kritikus sastra, penulis akan   memaparkan penjelasan yang dikutip dari kitab   “ في النقد الأدبي القديم عند العرب ” karya Dr. Mustofa Abdur Rohman Ibrahim. Kitab ini merupakan muqorror Fakultas Dirasat Islamiyah wal Arobiyyah lil Banin Kairo. 1. Mempunyai dzauq/sense (per...