1. Dukungan Khalifah dan Pejabat (تشجيع الخلفاء والأمراء)
Para khalifah,
pun para pejabat akan memberikan hadiah bagi siapa saja yang memiliki kemampuan
ulung dalam bersyair akan mendapatkan hadiah dalam jumlah besar. Oleh karena
itu para penyair saling bersaing untuk menciptakan syair yang bisa memikat hati
para khalifah. Isinya memuji para pemimpin tersebut. Tak heran jika pada masa
ini tujuan
syair sudah
beralih dengan tujuan mencari rezeki.
Contohnya adalah
ketika Abdullah ibn Qois (salah seorang pemimpin militer dinasti Umayyah)
melantunkan bait syair kepada Abdul Malik.
يأتَلِقُ التَّاجُ فَوْقَ مَفْرقِهِ # عَلَى جَبِيْنٍ
كَأنَّهُ الذّهَبُ
Mahkota bersinar di keningnya sepertihalnya
emasbahwa
Kemudian Abdul Malik berkata kepada Ibnul Qois:
“Apakah kamu memujiku bahwa aku raja orang-orang ‘ajam? Sedanglan kau memuji
Mus’ab dengan berkata”
إِنّمَا مُصْعَبٌ شِهَابٌ مِنَ اللَّه #
تَجَلَّتْ عَنْ وَجْهِهِ الظَّلْمَاءُ
مُلْكُهُ مُلْكُ عِزَّةٍ لَيْسَ فِيْهِ #
جَبَرُوت وَلَا لَهُ كِبْرِيَاءُ
Sesunguhnya Mush’ab adalah bintang dari Allah
Dengan wajahnya kegelapan menjadi bersinar
Kerajaannya adalah kerajaan kemuliaan
Yang di dalamnya tidak ada kekuasaan ataupun kesombongan
2. Konflik Politik (الصؤاع السياسي وما خلفه من أحزاب)
Banyak kelompok atau partai yang mewarnai pemerintahan Dinasti Bani Umayyah seperti Zubairi, Syi’ah, dan Khawarij. Kelompok-kelompok ini berdampak terhadap berkembangnya syair pada masa ini karena setiap kelompok pasti memiliki syair yang berbau politik untuk mendukung kelompoknya dan mencela kelompok lain, ceramah politik , dan lain-lain.
3. Majlis Sastra (مجالس النقد)
Para khalifah memang sangat perhatian terhadap sastra. Bisa dilihat dengan adanya majlis-majlis sastra. Di majlis ini, para menyair menyenandungkan syair mereka. Kemudian khalifah memberikan imbalan jika dirasa syair tersebut.
4. Semakin banyaknya pusat syair dan pasar (تعدد مراكز الشعر وأسواقه)
Pusat syair dan pasar semakin banyak. Hal ini digunakan oleh para penyair untuk saling bersaing menampilkan kecakapan mereka. Para kritikus kemudian membandingkan dua penyair atau lebih. Bisa dikatakan, di pasar inilah kecakapan mereka juga akan semakin dikenal.
5. Berbalas sastra (النقائض)
Pada masa ini, ada tiga penyair yang paling
terkenal. Mereka adalah Farazdaq, Jarir, dan Akhthol. Setiap penyair akan
memamerkan keunggulan dan keindahan syair kalangannya sendiri. Sebaliknya, jika
suatu syair berasal dari musuhnya maka ia akan menjelek-jelekkan dan
menyebutkan kekurangan yang ada pada syair lawannya tersebut.
Pada masa inilah
dimulainya perkembangan ilmu bahasa Arab dan nahwu. Aktivitas kebahasaan ini
tentu berpengaruh terhadap perkembangan sastra pada zaman Umawiyah, seperti
kritik dari sisi balaghohnya
Komentar
Posting Komentar